Kamis, 29 Juli 2010

Apa itu HIV?

Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

HIV ada singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus yang menyebabkan rusaknya/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.
[ Kembali ke atas ]

· Bagaimana virus HIV bisa menimbulkan rusaknya sistem kekebalan manusia ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.
[ Kembali ke atas ]

· Dimanakah virus HIV ini berada ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain
[ Kembali ke atas ]

· Apakah CD4 itu ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)
[ Kembali ke atas ]

· Apa fungsi sel CD4 ini sebenarnya ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia
[ Kembali ke atas ]

· Apa gejala orang yang terinfeksi HIV menjadi AIDS?
Diperbaharui terakhir: 2010-03-03

Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak umum terjadi):

Gejala Mayor:
- Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
- Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
- Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
- Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala MInor:
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Dermatitis generalisata
- Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
- Kandidias orofaringeal
- Herpes simpleks kronis progresif
- Limfadenopati generalisata
- Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
- Retinitis virus sitomegalo

Kasus Dewasa:
Bila seorang dewasa (>12 tahun) dianggap AIDS apabila menunjukkan tes HIV positif dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dengan sekurang-kurangnya 2 gejala mayor dan 1 gejala minor, dan gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

[ Kembali ke atas ]

· Bagaimana HIV menjadi AIDS?
Diperbaharui terakhir: 2009-06-15

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:

1. Tahap 1: Periode Jendela
- HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
- Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
- Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
- HIV berkembang biak dalam tubuh
- Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
- Sistem kekebalan tubuh semakin turun
- Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
- Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

4. Tahap 4: AIDS
- Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
- berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah
[ Kembali ke atas ]

Tak Ada Wilayah Jakarta yang Bebas AIDS

Tanggal: Tuesday, 13 July 2010
Topik: HIV/AIDS

KOMPAS.com, 13 Juli 2010

JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Komisi Penanggulangan AIDS menggelar rapat kerja daerah atau rakerda pada 12-16 Juli pekan ini. Rapat kerja dibuka oleh Asisten Kesehatan Masyarakat Sekretaris Daerah DKI Jakarta, Mara Oloan Siregar, di ruang serbaguna lantai 23 Balai Kota, Senin (12/7/2010).

Dalam sambutannya, Mara Oloan mengatakan bahwa DKI Jakarta menempati peringkat keempat sebagai provinsi dengan jumlah kasus AIDS terbanyak dan peringkat ketiga rata-rata jumlah penderita tertinggi. Sampai bulan Meret 2010 saja, terdapat 2.828 kasus AIDS dengan 2.002 orang di antaranya tertular dari jarum suntik, sedangkan 426 lainnya meninggal. Jumlah ini meningkat dari tahun sebelumnya.

"Tidak ada wilayah di Jakarta yang bebas dari HIV/AIDS sekarang," ungkapnya.

Mara Oloan mengatakan, penderita terbanyak di Jakarta adalah laki-laki dan pada usia produktif. Oleh karena itu, lanjutnya, Pemda DKI akan menaruh perhatian besar terhadap besarnya angka ini.

Pembukaan dihadiri oleh perwakilan dinas kesehatan (dinkes) enam wilayah Jakarta, kelompok kerja komisi, perwakilan puskesmas dan klinik swasta, dinas pariwisata, dan sejumlah lembaga korban. Sekretaris KPA Rohana Manggala mengatakan, rakerda untuk program 2011-2012 ini akan berfokus pada peranan dinkes dalam sosialisasi AIDS melalui laman internet, peranan PMI, LSM, pokja, dan mitra internasional untuk menanggulangi kasus AIDS.

Hepatitis B 100 Kali Lebih Menular dari HIV

Tanggal: Wednesday, 28 July 2010
Topik: HIV/AIDS

detikHealth, 27 Juli 2010

Jakarta, Penularan virus HIV sudah sangat meresahkan bagi WHO, dunia kedokteran dan masyarakat dunia. Tetapi ternyata virus hepatitis B lebih cepat menular bahkan hingga 100 kali lipat dari penularan virus HIV. Ini membuat WHO menjadikan kasus hepatitis sebagai salah satu agenda penyakit prioritas.

Tanpa disadari, 2 miliar orang di dunia pernah terinfeksi hepatitis B, yang artinya sepertiga dari penduduk dunia pernah terekspos virus Hepadnaviridae, yaitu virus penyebab hepatitis B atau disebut juga Hepatitis B Virus (HBV).

Dari 2 miliar tersebut, lebih dari 350 juta penderita menjadi penyakit kronik (menahun) dan sekitar 500 ribu hingga 2 juta orang meninggal setiap tahunnya karena berlanjut menjadi penyakit hati serius yang diakibatkan oleh infeksi hepatitis B kronik. Ini membuat hepatitis B berada pada posisi kesepuluh penyebab kematian utama di dunia.

"Di Indonesia, penderita hepatitis B dan C jauh lebih besar dari penderita HIV AIDS," tutur Dr Unggul Budihusodo, Sp.PD, KGEH, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), dalam acara konferensi media Hari Hepatitis Sedunia di Mario's Place, Jakarta, Selasa (27/7/2010).

Penderita hapatitis B kronik dapat terlihat 'sehat', namun bila tidak mendapat pengobatan berpotensi mengalami pengerasan hati (sirosis), kanker hati dan gagal hati yang berujung pada kematian.

"Hal ini karena sebagian besar orang yang terinfeksi HBV, yaitu 70 persen, tidak menunjukkan gejala apapun. Dan hanya 30 persen saja yang menunjukkan gejala, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa tubuhnya telah terinfeksi HBV," jelas Prof Dr Ali Sulaiman, PhD, Sp.PD, KGEH, FACG, Pokja Hepatitis.

Virus hepatitis B sangat mudah menular, bahkan 100 kali lebih mudah dibandingkan virus HIV dan virus ini dapat bertahan hidup selama 1 minggu hingga berbulan-bulan di luar tubuh, serta alat-alat medis dan alat pemeriksaan gigi.

Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh manusia, yaitu: Dari ibu penderita hapatitis B kepada bayinya saat dalam kandungan atau dilahirkan

1. Berhubungan seksual dengan penderita hepatitis B tanpa pengaman
2. Melalui suntikan atau transfusi darah yang tercemar virus hepatitis B, seperti: - Pengguna narkoba suntik - Pengguna alat kesehatan (jarum, pisau, gunting) yang tidak disterilkan sempurna - Tindik, tato, pisau cukur, gunting kuku yang tidak steril


Sebagian besar orang yang terinfeksi hepatitis B memang tidak menunjukkan gejala apapun, tapi gejala-gejala umum yang tampak pada sebagian kecil penderita hepatitis B adalah sebagai berikut:

Hepatitis B akut (terinfeksi kurang dari 6 bulan)

1. Mual, muntah, nafsu makan turun dan panas
2. Warna air seni coklat seperti teh
3. Bagian putih mata tampak kuning
4. Kulit seluruh tubuh tampak kuning
5. Warna tinja kuning

Hepatitis B kronik (lebih dari 6 bulan atau menahun) Sebagian besar tanpa gejala nyata. Tapi keluhan umum seperti lemas, lekas capek, ngantuk, gangguan pencernaan, kembung, mual dan kurang nafsu makan. (mer/ir)

Sumber: detikHealth

Pakar Fikih: Berantas HIV/AIDS dengan Syariat Islam

Hidayatullah.com— Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA mengatakan, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS pada tiap tahunnya membuktikan kegagalan manusia menangggulangi masalah itu. Berbagai upaya memberantas HIV/AIDS sudah terbukti gagal. Apa salahnya mulai mencoba cara syariat Islam?


Karena itu, Guru Besar Ilmu Fikih IAIN Sunan Ampel ini menentang keras upaya pencegahan HIV/AIDS dengan cara lama yang selama ini dilakukan pemerintah, baik melalui kondomisasi maupun lokalisasi. Sebagai pengganti, dia menyarankan agar melirik pada syariat Islam.

“Tidak ada cara lain dalam memberantas HIV/AIDS, kecuali dengan menerapkan syariat Islam. Cara manusia sudah terbukti gagal total,” tegas Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini kepada www.hidayatullah.com pagi tadi.

Lebih jauh dia menegaskan, hukum yang dibuat manusia tidak sedikit pun bisa mengeliminasi dan memberantas penyakit tanpa obat itu. Alih-alih terkurangi, justru penyakit tersebut malah semakin massif.

Tak hanya itu, sikap permisifisme masyarakat terhadap seksualitas makin menjadi-jadi. Hal itulah yang belum disadari banyak orang, termasuk pemerintah.

Pria yang pernah kuliah pada Takhassus Tafsir Ayat al-Ahkam Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir ini, juga menentang keras pembagian kondom (kondomisasi) yang tiap tahun kerap dilakukan.

“Saya sangat tidak setuju dan mengecam tindakan kondomisasi. Hal itu tidak lain membiarkan orang berperilaku seks bebas,” tegasnya.

“Memberantas HIV/AIDS kok malah dibuat lokalisasi? Bukankah itu justru menyuburkan prostitusi,” jawabnya. “Lokalisasi itu tidak ada dalam Islam,” imbuhnya.

Beda dengan Islam. Bagi para pezina, baik yang mukhson maupun ghoiru mukhson mendapat hukuman secara langsung. Bagi yang belum menikah (ghoiru muhson) akan dicambuk. Setidaknya hal itu merupakan shock therapy bagi mereka. [ans/www.hidayatullah.com]

Penularan HIV Tertinggi di Jakarta pada Usia Muda dan Produktif

Submitted by hans on Mon, 02/19/2007 - 16:15

Askesmas Jaksel Drs.Ibnu Hajar mengatakan perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia telah mengalami peningkatan yang tajam, sampai dengan Juni 2005 telah tercatat sebanyak 7.098 kasus dan 882 diantaranya meninggal dunia. Dari seluruh propinsi di Indonesia, tambah Ibnu, DKI Jakarta menduduki peringkat pertama untuk jumlah kasus HIV/AIDS, ditemukan sebanyak 3.103 kasus.
Berdasarkan hasil respon tahun 2005 menurut Ibnu, cara penularan kasus IMS dan HIV/AIDS terbesar di propinsi DKI Jakarta melalui pengguna narkoba jarum suntik, kemudian disusul dengan hubungan seksual beresiko (berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom).

“Dari kasus yang ditemukan, terdata penularan IMS dan HIV/AIDS paling tinggi terjadi pada golongan usia muda dan produktif,” kata Ibnu usai membuka acara ”Work Shop Kepedulian Mahasiswa dan Pemuda Dalam Rangka Penanggulangan HIV/AIDS Tingkat Kotamadya Jakarta Selatan” di Hotel Maharani, Jl. Mampang Prapatan, Jaksel, Selasa (24/1) lalu.

Berbagai upaya penanggulangan penularan IMS dan HIV/AIDS telah dilakukan Pemda kata Ibnu, diantaranya melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), namun hasil yang dicapai belum optimal, karena adanya berbagai kendala seperti rendahnya peran serta masyarakat, peraturan perundangan yang belum mendukung, adanya stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS serta dukungan anggaran yang masih terbatas.

“Keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS sangat bergantung pada kemauan politik dan kepeminpinan dalam mengatasi masalah HIV/AIDS yang sangat kompleks serta dukungan dan penanganan yang terkoordinasi antar sektor terkait dan peran serta dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, LSM dan seluruh komponen masyarakat, khususnya dari kalangan mahasiswa dan pemuda,” tegasnya.

Guna menekan tingginya tingkat penularan IMS dan HIV/AIDS di Jaksel, Ibnu mengajak para pejabat di lingkungan Kantor Walikotamadya Jakarta Selatan, pimpinan Lembaga non pemerintah, dunia usaha dan masyarakat luas untuk senantiasa bekerja sama lebih intensif, teroganisir, terpadu dan berkesinambungan sesuai tugas dan fungsi masing-masing melaksanakan Kampanye Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS agar tidak meningkat terus.

“Mari kita lakukan Kampanye Penanggulangan dan Pencegahan HIV/AIDS Untuk menekan tingginya angka penularan,” himbaunya.

Pada kesempatan lain Kasi Adkesmas Jaksel, Hamim mengatakan maksud dan tujuan diadakan Work Shop Kepedulian Mahasiswa & Pemuda dalam rangka penanggulangan HIV/AIDS adalah untuk meningkatkan pemahaman Mahasiswa dan Organisasi Pemuda mengenai informasi dasar HIV/AIDS sehingga tidak ada lagi stigma dan Diskriminasi terhadap ODHA serta membangkitkan cinta dan kepedulian terhadap permasalahan HIV/AIDS.

Sumber:
http://www.mediajakartaselatan.com/newsv.php?nid=495
Penulis: Bento

Perkembangan HIV/AIDS Di Dunia

Terakhir Diperbaharui (Kamis, 05 Maret 2009 17:18) Ditulis oleh dr. Adi Sasongko, MA Kamis, 05 Maret 2009 01:26

Perhatian, buka di jendela baru. PDFCetakE-mail

Perkembangan HIV/AIDS Di DuniaKasus pertama ditemukan di San Fransisco pada seorang gay tahun 1981.

Menurut UNAIDS(Badan PBB untuk penanggulangan AIDS) s/d akhir 1995, jumlah orang yang terinfeksi HIV (Human Immuno-deficiency Virus) di dunia telah mencapai 28 juta dimana 2,4 juta diantaranya adalah kasus bayi dan anak. Setiap hari terjadi infeksi baru sebanyak 8500 orang, sekitar 1000 diantaranya bayi dan anak.

Sejumlah 5,8 juta orang telah meninggal akibat AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome), 1,3 juta diantaranya adalah bayi dan anak. -AIDS telah menjadi penyebab kematian utama di Amerika Serikat, Afrika Sub-sahara dan Thailand. Di Zambia, epidemi AIDS telah menurunkan usia harapan hidup dari 66 tahun menjadi 33 tahun, di Zimbabwe akan menurun dari 70 tahun menjadi 4o tahun dan di Uganda akan turun dari 59 tahun menjadi 31 tahun pada tahun 2010.


POLA PENULARAN VIRUS AIDS :
Virus AIDS ditemukan dalam cairan tubuh manusia, dan paling banyak ditemukan pada darah, cairan sperma dan cairan vagina. Pada cairan tubuh lain juga bisa ditemukan (seperti misalnya cairan ASI) tetapi jumlahnya sangat sedikit.


Sejumlah 75-85% penularan terjadi melalui hubungan seks (5-10% diantaranya melalui hubungan homoseksual), 5-10% akibat alat suntik yang tercemar (terutama pada pemakai narkotika suntik), 3-5% melalui transfusi darah yang tercemar.

Infeksi HIV sebagian besar (lebih dari 80%) diderita oleh kelompok usia produktif (15-49 tahun) terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita wanita cenderung meningkat.

Infeksi pada bayi dan anak, 90% terjadi dari ibu yang mengidap HIV. Sekitar 25-35% bayi yang dilahirkan oleh Ibu pengidap HIV akan menjadi pengidap HIV, melalui infeksi yang terjadi selama dalam kandungan, selama proses persalinan dan melalui pemberian ASI. Dengan pengobatan antiretroviral pada ibu hamil trimester terakhir, risiko penularan dapat dikurangi menjadi hanya 8%.





SIAPA YANG RAWAN TERHADAP VIRUS AIDS ? :
Infeksi virus AIDS terutama disebabkan oleh perilaku seksual berganti-ganti pasangan. Oleh karena itu yang paling berisiko untuk tertular AIDS adalah siapa saja yang mempunyai perilaku tersebut. Harus diingat bahwa perilaku seperti ini bukan hanya dimiliki oleh kelompok pekerja seks tetapi juga oleh kelompok lain seperti misalnya remaja, mahasiswa, eksekutif muda dsb. Jadi yang menjadi masalah disini bukan pada "kelompok" mana tetapi pada "perilaku" yang berganti-ganti pasangan.

Rendah, dana pencegahan HIV/AIDS di pariwisata Rabu, 16 Juni 2010 | 15:20 wib ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) mengakui anggaran pendukungan untuk kegiatan pencegahan HIV/AIDS di lingkungan kepariwisataan, masih sangat rendah. Tahun 2010, hanya dianggarkan sekitar Rp500 juta dan tahun sebelumnya malah belum dianggarkan.

"Tahun 2011, KPAN mengusulkan ada kenaikan sekitar Rp2,5 miliar. Kenaikan ini sejalan melonjaknya jumlah kunjungan wisatawan sehingga perlu digenjot pencegahannya," ungkap Kemal N. Siregar, Deputi Pengembangan Program KPAN pada sosialiasi HIV/AIDS di Lingkungan kepariwisataan di Jakarta, Rabu (16/6/2010).

Selain itu, sambung Kemal, dunia pariwisata sangat erat dengan dunia hiburan, dunia mencari kesenangan seperti karaoke, panti pijat, pub yang banyak dikunjungi wisatawan sehingga sangat bersentuhan langsung dengan masalah yang dampaknya bisa menimbulkan HIV/AIDS.

Dikatakan, Indonesia memang bukan menjadi destinasi wisata prostitusi, namun dalam prakteknya wisata sex hanya sebagai ekses individu bagi wisatawannya, yang sulit untuk dibendung.

Karena itu, langkah pencegahan mulai dini harus terus disosialisasikan kepada pekerja di hiburan malam maupun wisatawan tentang dampak prostitusi terhadap bahaya HIV/AIDS. Memang, dampak penyebaran HIV/AIDS, yang paling besar di kepariwistaaan dari hubungan seks, ucap pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia,

M. Bakri, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenbudpar menilai Indonesia tidak bisa menerapkan sikap diskriminasi terhadap wisatawan mancanegara (wisman) yang kena HIV/AIDS, agar tidak boleh berwisata ke Indonesia. Mengingat, berwisata merupakan hak asasi setiap manusia.

"Namun pencegahan merupakan langkah strategis. Memang upaya kita belum maksimal karena jangkauan wilayah destinasi Indonesia sangat luas, sehingga kita menerapkan pola daerah prioritas untuk pencehannya," ungkapnya.

Data perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sampai 31 Maret 2010, secara kumulatif jumlah kasus AIDS: 20.564 kasus di 32 provinsi yang tersebar di 300 kab/kota. Saat ini ratio kasus

AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1, penularan HIV/AIDS melalui Heteroseksual 50,2%, IDU 39,2%, dan Homoseksual 3,3%.

Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (48,7%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (30,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,9%).

Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat.

Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi Papua (15,2 kali angka nasional), Bali (5,4 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,5 kali angka nasional), Kep. Riau (2,5 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka nasional), Maluku (1,6 kali angka nasional).

Selain itu, Bangka Belitung (1,3 kali angka nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogykarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau (1,0 kali angka nasional); Proporsi kasus AIDS yag dilaporkan telah meninggal adalah 19,1%.

Diestimasikan, di Indonesia tahun 2014 akan terdapat 501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita ditemukan terbanyak pada usia produktif, yaitu 15-29 tahun. Padahal, pengurangan kasus HIV/AIDS merupakan salah satu target Millennium Development Goals (MDGs).

Data KPA Nasional menunjukkan, 3,3 juta laki-laki mengunjungi pekerja seks. Ada 381.000 laki-laki menyuntik narkoba, dan 809.000 melakukan hubungan seksual sesama jenis.

Berita Rabu, 04 Juli 2007 08:22:42 Integrasi Materi HIV/AIDS dalam Kurikulum

Kategori: Pendidikan (1311 kali dibaca)

Jakarta, Rabu (20 Juni 2007) - Perkembangan endemik HIV/AIDS begitu cepat khususnya dikalangan usia produktif 15 tahun ke atas. Tahun 1991 tercatat 250.000 jiwa terinfeksi HIV/AIDS dan saat ini mencapai sekitar 60 juta jiwa di seluruh dunia. Salah satu upaya pencegahan adalah melalui jalur pendidikan yang terintegrasi dalam kurikulum.

Materi mengenai HIV/AIDS sudah ada sejak kurikulum 1994 dan diperkuat Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. "Sekolah dapat memasukkan materi HIV/AIDS dalam proses belajar mengajar maupun kegiatan ekstra kurikuler" kata Fasli Jalal, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Workshop on Challenges in Integrating HIV/AIDS in Secondary School Curriculum through Innovative Approaches , di Plasa Depdiknas, hari ini.

Menurut Fasli, pintu masuk utama untuk mengajarkan materi HIV/AIDS adalah melalui pelajaran biologi (kesehatan reproduksi), olahraga, agama, sains maupun IPS terpadu.. "Dalam hal ini, guru sangat berperan dalam mengemas materi yang menarik dan harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang HIV/AIDS," jelas Fasli.

Disamping itu, guru juga perlu memberi pengertian dan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya Keluarga Berencana, bahaya seks bebas yang dapat menularkan penyakit menular seksual, maupun perlakuan-perlakuan yang tidak pantas terhadap anak-anak sekolah.

Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Widaninggar menambahkan, materi pencegahan HIV/AIDS telah masuk dalam kegiatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), maupun Pencinta Alam mulai tingkat sekolah dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. "Secara khusus, pendidikan berbasis kecakapan hidup (life skill education) untuk pencegahan HIV/AIDS telah dikembangkan sejak tahun 2002 untuk tingkat SMP dan SMA," ujar Widaninggar.

Sejalan dengan kebijakan yang telah ditempuh Depdiknas, UNESCO dan UNICEF juga memandang pendidikan berbasis kecakapan hidup sebagai upaya efektif pencegahan HIV/AIDS. Menurut Simon Baker dari UNESCO Bangkok, melalui pendidikan kecakapan hidup, siswa mendapat ruang untuk memperoleh informasi mengenai hal ini. Kegiatan paling efektif dalam proses belajar mengajar adalah ketika siswa diajak untuk merencanakan dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. "Apalagi sekarang dunia berkomitmen dalam Education for All yang menempatkan tanggung jawab pendidikan ada ditangan kita bersama," kata Simon.***

Kasus HIV/AIDS di Jakarta Pusat Meningkat Tiga Kali Lipat

Sabtu, 24 Juli 2010 19:11 WIB 0 Komentar 0 0
Penulis : Nesty Trioka Pamungkas

CETAK

KIRIM

FACEBOOK

Buzz up!
JAKARTA--MI: Penyakit hilangnya kekebalan tubuh manusia yang biasa disebut dengan HIV/AIDS terus berkembang dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan itu dapat dilihat dari meningkatnya kasus HIV/AIDS di salah satu wilayah kota administrasi Jakarta Pusat (Jakpus). Tidak tanggung-tanggung kenaikan angka kasus tersebut tergolong tajam, hampir tiga kali lipat.

Berdasarkan data yang tercatat di Kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jakpus, pada tahun 2009 silam angka kasus penderita mencapai 145 kasus, sedangkan pada tahun 2010 dari data layanan di 12 lokasi, sampai akhir Juni 2010 telah mencapai 400 kasus lebih.

"Angka kasus penderita tahun 2010 ini belum diverifikasi, kemungkinan jumlah itu bisa melebihi perkiraan," ujar Sekretaris KPA Jakpus Amiruddin Holik di Jakarta, Sabtu (24/7).

Amiruddin mengutarakan, penyebab menularnya penyakit ganas tersebut tidak hanya melalui hubungan seksual melainkan melalui jarum suntik narkoba yang tidak steril secara bergantian. Dan sesuai dengan survei Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, 55% penderita terinfeksi akibat pengguna narkoba suntik, sisanya melalui hubungan seksual. "Kebanyakan penderita terinfeksi virus mematikan ini akibat menggunakan narkoba suntik bersama," paparnya.

Untuk mencegah terus berjatuhannya korban, kata Amiruddin, pihaknya bersama KPA Provinsi DKI Jakarta dalam waktu dekat ini akan melakukan Road Show (kunjungan keliling) ke kecamatan-kecamatan guna memberikan sosialisasi dan pemahaman tentang ancaman dan cara pencegahan terhadap penularan penyakit tersebut. "Diharapkan dengan pengetahuan yang luas masyarakat akan mengerti cara menghindarinya," tandasnya. (*/OL-2)

Perkembangan HIV-AIDS di Indonesia Sangat Mengkhawatirkan

PDFPrintE-mail

Written by Kunto Prastowo Wednesday, 30 June 2010 00:42
Tingkat perkembangan virus HIV-AIDS di Indonesia sangat mengkhawatirkan. Malahan, dari seluruh negara di Asia, negeri kita tergolong yang paling cepat. Tiap tahunnya terjadi peningkatan penyebaran virus mematikan ini. Setiap tahun jumlah kasus baru HIV-A1DS menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pengidap HIV-AIDS terbesar di Indonesiasaat ini berusia 15-29 tahun. Sampai Maret 2010, secara akumulatif kasus AIDS di Indonesia mencapai 20.564 kasus, 561 kasus di antaranya adalah kasus baru. Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kementerian Kesehatan RI Bambang Gianto Rahardjo, pada Lokakarya Nasiona) Pemangku Kebijakan "Perlindungan Sosial dan Kesehatan bagi Pekerja-Integrasi Pencegahan dan Pengobatan TB/H1V di Tempat Kerja" di Jakarta, Selasa (29/6), mengakui, pada saat ini HIV-AIDS sudah menjadi pandemi global dengan dampak yang sangat merugikan, baik dampak kesehatan, sosial ekonomi, maupun politik.Negara yang mengalami dampak terberat, seperti di negara Afrika, HIV-AIDS telah menurunkan harapan hidup lebih dari 20 tahun, menghambat pertumbuhan ekonomi, dan memperberat kemiskinan. "Di Asia, penurunan produktivitas yang diakibatkan HIV-AIDS lebih besar dibanding dengan yang diakibatkan oleh penyakit lain," kata Menkes. HIV-AIDS juga dikhawatirkan akan menambah jumlah angka kemiskinan di dunia sebesar 6 juta kepala keluarga hingga 2015 apabila upaya pengendalian HIV-AIDS di masing-masing negara tidak segera diperkuat.Menyinggung tentang penyakit tuberkulosis (TB), Menkes mengemukakan, TB merupakan penyebab utama penyakit dan kematian orang yang hidup dengan AIDS (ODHA).Di Indonesia kasus TB menempati urutan ketiga tertinggi setelah India dan China. Setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB dengan tingkat kematian 91.000 kasus per tahun. "Prevalensi TB di Indonesia tahun lalu mencapai 100 dari 100.000 orang, di mana 70 persen dialami oleh usia produktif," tambah Menkes.Sementara itu, Officer in Charge Organisasi Perburuhan Internasional (/LO) Jakarta Peter Van Rooij dalam kesempatan yang sama mengemukakan, walaupun data kasus HIV-AIDS di Indonesia menunjukkan dominasi usia produktif, data kasus HIV-AIDS di dunia kerja sampai saat ini tidak dapat tercatat secara sistematis.

Kasus HIV/AIDS di Kep. Seribu Masih Samar 2007/12/1 8:43:18

Kasus HIV/AIDS di Kep. Seribu Masih Samar
2007/12/1 8:43:18

Gonjang ganjing masalah penyebaran virus HIV di Kepulauan Seribu hingga kini belum terjawab dengan tuntas. Dari 24 ribu kasus pengidap HIV di Provinsi DKI Jakarta, Kepulauan Seribu hanya kebagian satu kasus itu pun tidak ada pembuktian yang valid mengenai adanya warga Kepulauan Seribu yang menderita penyakit AIDS. Meskipun begitu, petugas KPA Kep. Seribu diharapkan terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data yang valid.
Wacana penanggulangan penyebaran virus HIV ke wilayah paling bontot di Ibu Kota ini terangkat saat tim Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi DKI Jakarta melakukan supervisi dan tanya jawab dengan KPA Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu di Ruang Pola Gedung Kabupaten, Senin (26/11).

Usai acara, Nita Kepala Koordinasi dan Pengawasan KPA Provinsi DKI Jakarta menyarankan, penanggulangan dan penyebaran virus mematikan itu harus tetap dijalankan. "KPA Kepulauan Seribu jangan terlena dengan kondisi sekarang walau berdasarkan laporan tidak ditemukan kasusnya," katanya kepada pulauseribu.net beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pogram penanggulangan harus tetap dijalankan, karena berdasarkan perkiraan, satu kasus AIDS di wilayah bisa dihitung 100 kasus. "Jadi pihak terkait, dalam hal ini KPA Kepulauan Seribu tidak boleh berpangku tangan, dikhawatirkan metodologi gunung es terjadi disini (Kep. Seribu, red)," katanya.
Laporan yang dianggap datar dari Kalahar KPA Kepulauan Seribu memaksa Nita berkomentar, KPA Kep. Seribu harusnya lebih inovatif dalam melaksanakan program tersebut. Saat ini, lanjutnya, model penyuluhan tidak lagi efektif. Petugas harus terjun langsung dan berbaur serta mau mengayomi masyarakat yang rentan terhadap penularan. "Sudah saatnya, KPA turun langsung kelapangan, jangan hanya berdasarkan survai yang belum tentu sesuai dilapangan," tambahnya.

Sementara itu, Kalahar KPA Kepulauan Seribu I Nyoman Banjar menyatakan, KPA Kep. Seribu sudah maksimal menjalankan program kerja penanggulangan penyakit AIDS. Bahkan, sudah tiga kali pihaknya melaksanakan progaram itu di tiga kelurahan di Kepulauan Seribu dengan segmen audiens berbeda, dari tingkat nelayan sampai tingkat pelajar.

Namun, dirinya tidak menjamin penularan itu bisa ditahan, karena mobilitas warga tidak dapat dikontrol apalagi warga tersebut berprofesi sebagai nelayan. "Sangat sulit dikontrol, karena faktor kebiasaan masyarakat nelayan, bila melaut selama 3-4 bulan, selanjutnya bertambat disuatu tempat mereka kadang melakukan hubungan seks tanpa pengaman. Saat itulah kesempatan penularan HIV terjadi. Lalu, mereka pulang kerumah dan bisa saja menularkan kepada istri-istrinya," Ungkapnya yang saat ini juga menjabat Kasudin Kesehatan Kepulauan.

Ia menambahkan, mengenai pemeriksaan kesehatan berkaitan dengan virus HIV yang pernah dilaksanakan, dari 100 sampel hasil pemeriksaan secara rahasia tidak ditemukan darah yang positif mengidap virus HIV."Dalam pemeriksaan yang belum lama ini dilakukan kepada manusia yang beresiko tinggi tertular, dari 100 contoh yang diambil semuanya negatif HIV. Soal metode yang akan kita lakukan kedepan, saya lagi mencari dengan menyesuaikan karakteristik masyarakat disini," pungkas. (furqon)