Kamis, 29 Juli 2010

Berita Rabu, 04 Juli 2007 08:22:42 Integrasi Materi HIV/AIDS dalam Kurikulum

Kategori: Pendidikan (1311 kali dibaca)

Jakarta, Rabu (20 Juni 2007) - Perkembangan endemik HIV/AIDS begitu cepat khususnya dikalangan usia produktif 15 tahun ke atas. Tahun 1991 tercatat 250.000 jiwa terinfeksi HIV/AIDS dan saat ini mencapai sekitar 60 juta jiwa di seluruh dunia. Salah satu upaya pencegahan adalah melalui jalur pendidikan yang terintegrasi dalam kurikulum.

Materi mengenai HIV/AIDS sudah ada sejak kurikulum 1994 dan diperkuat Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004. "Sekolah dapat memasukkan materi HIV/AIDS dalam proses belajar mengajar maupun kegiatan ekstra kurikuler" kata Fasli Jalal, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Workshop on Challenges in Integrating HIV/AIDS in Secondary School Curriculum through Innovative Approaches , di Plasa Depdiknas, hari ini.

Menurut Fasli, pintu masuk utama untuk mengajarkan materi HIV/AIDS adalah melalui pelajaran biologi (kesehatan reproduksi), olahraga, agama, sains maupun IPS terpadu.. "Dalam hal ini, guru sangat berperan dalam mengemas materi yang menarik dan harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang HIV/AIDS," jelas Fasli.

Disamping itu, guru juga perlu memberi pengertian dan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya Keluarga Berencana, bahaya seks bebas yang dapat menularkan penyakit menular seksual, maupun perlakuan-perlakuan yang tidak pantas terhadap anak-anak sekolah.

Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Widaninggar menambahkan, materi pencegahan HIV/AIDS telah masuk dalam kegiatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), maupun Pencinta Alam mulai tingkat sekolah dasar, pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi. "Secara khusus, pendidikan berbasis kecakapan hidup (life skill education) untuk pencegahan HIV/AIDS telah dikembangkan sejak tahun 2002 untuk tingkat SMP dan SMA," ujar Widaninggar.

Sejalan dengan kebijakan yang telah ditempuh Depdiknas, UNESCO dan UNICEF juga memandang pendidikan berbasis kecakapan hidup sebagai upaya efektif pencegahan HIV/AIDS. Menurut Simon Baker dari UNESCO Bangkok, melalui pendidikan kecakapan hidup, siswa mendapat ruang untuk memperoleh informasi mengenai hal ini. Kegiatan paling efektif dalam proses belajar mengajar adalah ketika siswa diajak untuk merencanakan dan bertanggung jawab dalam pembelajaran. "Apalagi sekarang dunia berkomitmen dalam Education for All yang menempatkan tanggung jawab pendidikan ada ditangan kita bersama," kata Simon.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar