JAKARTA, kabarbisnis.com: Komisi Penanggulangan Aids Nasional (KPAN) mengakui anggaran pendukungan untuk kegiatan pencegahan HIV/AIDS di lingkungan kepariwisataan, masih sangat rendah. Tahun 2010, hanya dianggarkan sekitar Rp500 juta dan tahun sebelumnya malah belum dianggarkan.
"Tahun 2011, KPAN mengusulkan ada kenaikan sekitar Rp2,5 miliar. Kenaikan ini sejalan melonjaknya jumlah kunjungan wisatawan sehingga perlu digenjot pencegahannya," ungkap Kemal N. Siregar, Deputi Pengembangan Program KPAN pada sosialiasi HIV/AIDS di Lingkungan kepariwisataan di Jakarta, Rabu (16/6/2010).
Selain itu, sambung Kemal, dunia pariwisata sangat erat dengan dunia hiburan, dunia mencari kesenangan seperti karaoke, panti pijat, pub yang banyak dikunjungi wisatawan sehingga sangat bersentuhan langsung dengan masalah yang dampaknya bisa menimbulkan HIV/AIDS.
Dikatakan, Indonesia memang bukan menjadi destinasi wisata prostitusi, namun dalam prakteknya wisata sex hanya sebagai ekses individu bagi wisatawannya, yang sulit untuk dibendung.
Karena itu, langkah pencegahan mulai dini harus terus disosialisasikan kepada pekerja di hiburan malam maupun wisatawan tentang dampak prostitusi terhadap bahaya HIV/AIDS. Memang, dampak penyebaran HIV/AIDS, yang paling besar di kepariwistaaan dari hubungan seks, ucap pengurus Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia,
M. Bakri, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenbudpar menilai Indonesia tidak bisa menerapkan sikap diskriminasi terhadap wisatawan mancanegara (wisman) yang kena HIV/AIDS, agar tidak boleh berwisata ke Indonesia. Mengingat, berwisata merupakan hak asasi setiap manusia.
"Namun pencegahan merupakan langkah strategis. Memang upaya kita belum maksimal karena jangkauan wilayah destinasi Indonesia sangat luas, sehingga kita menerapkan pola daerah prioritas untuk pencehannya," ungkapnya.
Data perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia sampai 31 Maret 2010, secara kumulatif jumlah kasus AIDS: 20.564 kasus di 32 provinsi yang tersebar di 300 kab/kota. Saat ini ratio kasus
AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1, penularan HIV/AIDS melalui Heteroseksual 50,2%, IDU 39,2%, dan Homoseksual 3,3%.
Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (48,7%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (30,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,9%).
Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat.
Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi Papua (15,2 kali angka nasional), Bali (5,4 kali angka nasional), DKI Jakarta (3,5 kali angka nasional), Kep. Riau (2,5 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka nasional), Maluku (1,6 kali angka nasional).
Selain itu, Bangka Belitung (1,3 kali angka nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogykarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau (1,0 kali angka nasional); Proporsi kasus AIDS yag dilaporkan telah meninggal adalah 19,1%.
Diestimasikan, di Indonesia tahun 2014 akan terdapat 501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita ditemukan terbanyak pada usia produktif, yaitu 15-29 tahun. Padahal, pengurangan kasus HIV/AIDS merupakan salah satu target Millennium Development Goals (MDGs).
Data KPA Nasional menunjukkan, 3,3 juta laki-laki mengunjungi pekerja seks. Ada 381.000 laki-laki menyuntik narkoba, dan 809.000 melakukan hubungan seksual sesama jenis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar